Minggu, 22 Desember 2019

Biografi Pangeran Diponegoro

Pangeran Diponegoro


Pangeran Diponegoro adalah putra sulung dari Sultan Hamengkubuwana III, raja ketiga di Kesultanan Yogyakarta. Lahir pada tanggal 11 November 1785 di Yogyakarta dengan nama Mustahar dari seorang selir bernama R.A. Mangkarawati, yaitu seorang garwa ampeyan (istri selir) yang berasal dari Pacitan. Semasa kecilnya, Pangeran Diponegoro bernama Bendara Raden Mas Antawirya.

Menyadari kedudukannya sebagai putra seorang selir, Diponegoro menolak keinginan ayahnya, Sultan Hamengkubuwana III, untuk mengangkatnya menjadi raja. Ia menolak mengingat ibunya bukanlah permaisuri. Diponegoro setidaknya menikah dengan 9 wanita dalam hidupnya, yaitu:

B.R.A. Retna Madubrangta puteri kedua Kyai Gedhe Dhadhapan;R.A. Supadmi yang kemudian diberi nama R.A. Retnakusuma, putri Raden Tumenggung Natawijaya III, Bupati Panolan, Jipang;R.A. Retnadewati seorang putri Kyai di wilayah Selatan Jogjakarta;R.Ay. Citrawati, puteri Raden Tumenggung Rangga Parwirasentika dengan salah satu isteri selir;R.A. Maduretno, putri Raden Rangga Prawiradirjo III dengan Ratu Maduretna (putri HB II), jadi R.A Maduretna saudara seayah dengan Sentot Prawiradirdja, tetapi lain ibu;R.Ay. Ratnaningsih putri Raden Tumenggung Sumaprawira, bupati Jipang Kepadhangan;R.A. Retnakumala putri Kyahi Guru Kasongan;R.Ay. Ratnaningrum putri Pangeran Penengah atau Dipawiyana II.Syarifah Fathimah Wajo putri Datuk Husain (Wanita dari Wajo, Makassar), makamnya ada di Makassar. Syarifah Fathimah ini nasab lengkapnya adalah Syarifah Fathimah Wajo binti Datuk Husain bin Datuk Ahmad bin Datuk Abdullah bin Datuk Thahir bin Datuk Thayyib bin Datuk Ibrahim bin Datuk Qasim bin Datuk Muhammad bin Datuk Nakhoda Ali bin Husain Jamaluddin Asghar bin Husain Jamaluddin Akbar.
Diponegoro lebih tertarik pada kehidupan keagamaan dan merakyat sehingga ia lebih suka tinggal di Tegalrejo tempat tinggal eyang buyut putrinya, permaisuri dari Sultan Hamengkubuwana I, Gusti Kangjeng Ratu Tegalrejo, daripada di keraton. Pemberontakannya terhadap keraton dimulai sejak kepemimpinan Sultan Hamengkubuwana V (1822). Ketika itu, Diponegoro menjadi salah satu anggota perwalian yang mendampingi Hamengkubuwana V yang baru berusia 3 tahun, sedangkan pemerintahan sehari-hari dipegang oleh Patih Danureja bersama Residen Belanda. Cara perwalian seperti itu tidak disetujuinya.

Biografi R.A Kartini

Raden Adjeng Kartini


Raden Adjeng Kartini berasal dari kalangan priyayi atau kelas bangsawan Jawa. Ia merupakan putri dari Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, seorang patih yang diangkat menjadi bupati Jepara segera setelah Kartini lahir. Kartini adalah putri dari istri pertama, tetapi bukan istri utama. Ibunya bernama M.A. Ngasirah, putri dari Nyai Haji Siti Aminah dan Kyai Haji Madirono, seorang guru agama di Telukawur, Jepara. Dari sisi ayahnya, silsilah Kartini dapat dilacak hingga Hamengkubuwana VI. Garis keturunan Bupati Sosroningrat bahkan dapat ditilik kembali ke istana Kerajaan Majapahit. Semenjak Pangeran Dangirin menjadi bupati Surabaya pada abad ke-18, nenek moyang Sosroningrat mengisi banyak posisi penting di Pangreh Praja.

Ayah Kartini pada mulanya adalah seorang wedana di Mayong. Peraturan kolonial waktu itu mengharuskan seorang bupati beristerikan seorang bangsawan. Karena M.A. Ngasirah bukanlah bangsawan tinggi, maka ayahnya menikah lagi dengan Raden Adjeng Woerjan (Moerjam), keturunan langsung Raja Madura. Setelah perkawinan itu, maka ayah Kartini diangkat menjadi bupati di Jepara menggantikan kedudukan ayah kandung R.A. Woerjan, R.A.A. Tjitrowikromo.

Kartini adalah anak ke-5 dari 11 bersaudara kandung dan tiri. Dari kesemua saudara sekandung, Kartini adalah anak perempuan tertua. Kakeknya, Pangeran Ario Tjondronegoro IV, diangkat bupati dalam usia 25 tahun dan dikenal pada pertengahan abad ke-19 sebagai salah satu bupati pertama yang memberi pendidikan Barat kepada anak-anaknya. Kakak Kartini, Sosrokartono, adalah seorang yang pintar dalam bidang bahasa. Sampai usia 12 tahun, Kartini diperbolehkan bersekolah di ELS (Europese Lagere School). Di sini antara lain Kartini belajar bahasa Belanda. Tetapi setelah usia 12 tahun, ia harus tinggal di rumah karena sudah bisa dipingit.

Karena Kartini bisa berbahasa Belanda, maka di rumah ia mulai belajar sendiri dan menulis surat kepada teman-teman korespondensi yang berasal dari Belanda. Salah satunya adalah Rosa Abendanon yang banyak mendukungnya. Dari buku-buku, koran, dan majalah Eropa, Kartini tertarik pada kemajuan berpikir perempuan Eropa. Timbul keinginannya untuk memajukan perempuan pribumi, karena ia melihat bahwa perempuan pribumi berada pada status sosial yang rendah.

Kartini banyak membaca surat kabar Semarang De Locomotief yang diasuh Pieter Brooshooft, ia juga menerima leestrommel (paket majalah yang diedarkan toko buku kepada langganan). Di antaranya terdapat majalah kebudayaan dan ilmu pengetahuan yang cukup berat, juga ada majalah wanita Belanda De Hollandsche Lelie. Kartini pun kemudian beberapa kali mengirimkan tulisannya dan dimuat di De Hollandsche Lelie. Dari surat-suratnya tampak Kartini membaca apa saja dengan penuh perhatian, sambil membuat catatan-catatan. Kadang-kadang Kartini menyebut salah satu karangan atau mengutip beberapa kalimat. Perhatiannya tidak hanya semata-mata soal emansipasi wanita, tetapi juga masalah sosial umum. Kartini melihat perjuangan wanita agar memperoleh kebebasan, otonomi dan persamaan hukum sebagai bagian dari gerakan yang lebih luas. Di antara buku yang dibaca Kartini sebelum berumur 20, terdapat judul Max Havelaar dan Surat-Surat Cinta karya Multatuli, yang pada November 1901 sudah dibacanya dua kali. Lalu De Stille Kraacht (Kekuatan Gaib) karya Louis Coperus. Kemudian karya Van Eeden yang bermutu tinggi, karya Augusta de Witt yang sedang-sedang saja, roman-feminis karya Nyonya Goekoop de-Jong Van Beek dan sebuah roman anti-perang karangan Berta Von Suttner, Die Waffen Nieder (Letakkan Senjata). Semuanya berbahasa Belanda.

Oleh orangtuanya, Kartini dijodohkan dengan bupati Rembang, K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat, yang sudah pernah memiliki tiga istri. Kartini menikah pada tanggal 12 November 1903. Suaminya mengerti keinginan Kartini dan Kartini diberi kebebasan dan didukung mendirikan sekolah wanita di sebelah timur pintu gerbang kompleks kantor kabupaten Rembang, atau di sebuah bangunan yang kini digunakan sebagai Gedung Pramuka.

Anak pertama dan sekaligus terakhirnya, Soesalit Djojoadhiningrat, lahir pada tanggal 13 September 1904. Beberapa hari kemudian, 17 September 1904, Kartini meninggal pada usia 25 tahun. Kartini dimakamkan di Desa Bulu, Kecamatan Bulu, Rembang.

Berkat kegigihannya Kartini, kemudian didirikan Sekolah Wanita oleh Yayasan Kartini di Semarang pada 1912, dan kemudian di Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon dan daerah lainnya. Nama sekolah tersebut adalah "Sekolah Kartini". Yayasan Kartini ini didirikan oleh keluarga Van Deventer, seorang tokoh Politik Etis.

Kisah Terakhir

"Aku ingin ada seseorang yang akan kulukiskan dalam lembaran-lembaran kertas kehidupanku yang dipenuhi senyuman dan tangis kebahagiaan”
Kubaca sepenggal kalimat yang tertulis dalam buku diaryku yang telah usang dan dipenuhi debu.

“Mama” terdengar suara mungil itu memangggilku “iya sayang” aku buru-buru beranjak dari tempat tidurku dan menyimpan kembali buku diaryku ke dalam laci. “Mama, lihat kia dikasih boneka sama papa” ucap anak kecil itu kegirangan sambil menunjukkan boneka minion berukuran sedang yang sangat disukainya. Di belakang anak kecil itu berdiri seorang laki-laki yang tak asing lagi bagiku, dia tak lain adalah suamiku. Aku menghampirinya kemudian menjabat dan mencium tangannya, dia mengusap kepalaku dengan lembut dan tersenyum. Terlihat dari tatapan matanya kepadaku menandakan bahwa ia merasa bahagia ada pada posisinya saat ini, aku membalas tatapan matanya itu dan mulai menerawang bagaimana perjalanan kisahku bersamanya hingga bisa sampai pada titik ini.

Sore itu hujan turun cukup deras, aku berteduh di pelataran toko yang jaraknya tak jauh dari sekolahku. Pakaian putih abu yang kukenakan sedikit basah terkena air hujan, seharusnya aku tidak memaksakan diri untuk segera pulang dengan keadaan langit yang terlihat sudah tak mampu menahan air matanya. Tiba-tiba seorang laki-laki yang mengendarai motor matic berhenti di depanku kemudian ikut menemaniku berteduh di tempat itu. Sedikit aku melirik ke arahnya, aku lihat laki-laki itu bertubuh tinggi dengan wajah yang tampan kulit sawo matang dan hidungnya yang mancung. Seakan menyadari bahwa aku sedang memperhatikannya dia menoleh dan tersenyum padaku, aku segera mengalihkan pandanganku. Suasana hening tercipta beberapa menit sebelum akhirnya dia memulai percakapan.

“Hujannya deras banget mana udah sore lagi” kupandangi rintik air hujan yang tidak berhenti membasahi bumi, aku hanya tersenyum mendengar perkataannya. “kamu siswi Madrasah Aliyah itu?” tanyanya sambil menunjuk bangunan sekolahku. Aku hanya mengangguk dan tersenyum padanya. “hmm kenapa jam segini baru pulang?” tanya dia lagi. “Ada pelajaran tambahan karena sebentar lagi ujian nasional berlangsung” jelasku padanya “oh jadi kamu kelas XII, hmm sama dong” tuturnya menanggapi penjelasanku. “lalu kenapa kamu baru pulang?” tanyaku basa-basi “tadi aku habis futsal, pas pulang di jalan malah hujan deras jadi berteduh dulu disini terus ketemu kamu. hehe” dia tertawa kecil sambil menggodaku.

Kring.. kring.. kring.. handphoneku berbunyi tanda panggilan masuk “halo assalamu’alaikum mah” sapaku “wa’alaikumsalam, kamu dimana? udah sore kok belum pulang, acaranya sudah mau dimulai” “iya mah sebentar lagi ra pulang” “hati-hati di jalan ra” “iya mah, assalamualaikum” jawabku lalu mengakhiri panggilan.

“Memang ada acara apa?” tanya laki-laki itu, mungkin samar-samar ia mendengar percakapanku dengan mama di telepon. Aku memandangi tetesan air hujan yang mulai reda. “Sore ini kakakku bertunangan, aku harus cepat sampai rumah untuk menghadiri acara itu. Tapi, hujan menahanku disini ditambah lagi angkot sedari tadi tidak ada yang lewat” aku tertunduk lesu.

Dia lalu memakai helmnya dan menstarter motor maticnya itu, aku bingung sendiri melihat tingkahnya. “Ayo aku antar kamu pulang, hujannya juga udah mulai reda” aku terperangah mendengarnya. Siapa laki-laki asing ini aku tidak mengenalnya dan tiba-tiba dia memberikan tumpangan gratis padaku? “udah jangan bengong nanti kamu terlambat, ayo naik” ajak dia lagi. Mau tak mau aku harus secepatnya pulang ke rumah aku tidak mau melewatkan acara bahagia bagi kakakku dan berharap laki-laki ini benar mengantarkanku sampai rumah.

Sampai di rumah ternyata acara pertunangan kakakku sudah selesai hanya rasa kecewa dan penyesalan yang aku rasakan saat ini, sampai aku lupa mempersilahkan laki-laki itu masuk ke dalam rumah. “kamu darimana saja baru pulang, basah kuyup gini lagi” tanya mamaku khawatir “tadi aku berteduh dulu nunggu hujan reda” jawabku pada mama “nak, masuk dulu biar ibu buatkan teh hangat untukmu” ajak mama mempersilahkan laki-laki itu masuk. Dia kemudian masuk ke rumahku dan duduk di atas karpet bekas acara pertunangan kakakku yang belum dibereskan.

Setelah berganti pakaian aku menghampiri dan ikut duduk di sampingnya. Tak lama kemudian mama datang membawa dua cangkir teh hangat “namamu siapa nak?” tanya mama padanya “Rizky” jawabnya sambil tersenyum, aku baru mengetahui namanya sekarang karena selama berteduh kami tak saling memperkenalkan identitas masing-masing. “Oh iya terimakasih sudah mengantarkan Dhira pulang” lanjut mama “iya sama-sama bu” jawabnya lalu berpamitan untuk pulang.

Keesokan harinya saat aku tengah menunggu angkot untuk pulang ke rumah tiba-tiba Rizky sudah ada di hadapanku “loh kamu” ucapku kaget “assalamualaikum nona cantik, ayo aku antar kamu pulang” ajak dia dengan lembut “waalaikumsalam, tapi..” belum aku melanjutkan perkantaanku dia sudah siap mengendarai motornya “ayo naik, lihat langit sudah mendung nanti kehujanan lagi” rayu dia. Aku cepat-cepat naik ke motornya karena tidak ingin papa dan mamaku khawatir melihatku pulang dengan keadaan basah kuyup seperti kemarin. Sepanjang perjalanan aku mengobrol banyak dengannya, bersenda gur bercerita tentang kepribadian masing-masing dan akhirnya saling bertukar nomor handphone.

Beberapa bulan kami menghabiskan waktu bersama, terasa ada sesuatu yang lain di hatiku. Mungkinkah aku jatuh cinta lagi? Tidak! aku tidak ingin terpuruk lagi karena cinta yang tak seharusnya ada di hatiku. Aku mencoba menekan sebuah rasa cinta di hatiku agar tidak semakin menjadi-jadi, tapi apa dayaku saat mengajakku untuk dinner pada sabtu malam aku merasa sangat bahagia dan langsung mengiyakan ajakannya.

“dinnernya disini?” tanyaku heran saat masuk kesebuah warung penjual ikan bakar di pinggir jalan. “Iya, kamu keberatan? kalo gitu kita cari tempat lain” jawab Rizky dan bergegas pergi, “tidak, ayo duduk” aku menarik tangannya dan mempersilahkan dia duduk di sampingku. Kesederhanaannya itu yang membuat aku menyukainya, dia jauh berbeda dengan laki-laki yang pernah aku kenal. Meskipun dia berasal dari keluarga berada dia tidak pernah menghambur-hamburkan uang pemberian orangtuanya atau menyombongkan diri.

Makan malam dengannya terasa indah diiringi alunan musik yang dimainkan pengamen, meski suara mereka tidak begitu merdu tapi kami tetap menikmatinya. “Mas boleh pinjam gitarnya? nanti saya beri uang sebagai gantinya” pinta Rizky pada seorang pengamen, “boleh silahkan” jawab pengamen itu. Aku tidak mengerti apa yang akan Rizky lakukan dengan gitar itu.

Rizky mulai memetik gitarnya dan menyanyikan sebuah lagu yang tak asing lagi di telingaku, lagu “John legend – All of me” yang menjadi favoritku dia nyanyikan dengan suaranya yang merdu. Aku hanyut dalam lantunan lagu yang dia nyanyikan.

Tiba-tiba dia berhenti bernyanyi dan menggenggam tanganku sontak aku terkejut dengan itu. “Apa aku seperti type idealmu?” tanyanya “Apa?” “jika aku menyukaimu apa kamu mau menjadi kekasihku? lama aku menunggu untuk saat seperti ini” Rizky melanjutkan kalimatnya. Mulutku bungkam tak mampu berkata, terdengar suara pengunjung bersorak “Terima terima terima” aku memandang mereka dan tersenyum. “Baik, aku menerima kamu” kutatap mata Rizky lekat-lekat disertai tepuk tangan pengunjung yang meramaikan suasana di warung ikan bakar tersebut.

bengong? ayo kita makan, papa udah laper ni. hehe” Rizky membuyarkan lamunanku. Kini dia telah menjadi suamiku, kami telah dikaruniai seorang putri yang cantik bernama Adzkia Putri yang masih berumur 3 tahun. Aku merasa menjadi salah satu wanita terbahagia di dunia ini karena bisa hidup bersama laki-laki yang sangat kucintai dan dianugerahi peri cantik yang selalu membuatku tersenyum disaat jenuh. Kuharap laki-laki ini menjadi kekasih terkahir dalam hidupku yang akan menemani habisnya sisa umurku.

Aku, Kau Dan Hujan

Ketika itu, aku sedang duduk di dekat jendela kelas, memperhatikan teman-teman yang asik main hujan. Saat itulah kau datang menghampiri.
“Hei, Gunung Es.” Sapamu santai.
Aku yang tak ingin diganggu langsung menatapmu jengkel.
‘Just leave me alone!’ Usirku dalam hati.
Tapi kau malah terkikik geli. Tanganmu sigap menarik kursi lalu duduk di hadapanku.

“Enggak terasa masa SMA kita akan berakhir.” Raut wajahmu mendadak berubah sendu, manik cokelat muda yang biasa bersinar itu meredup seakan kehilangan energi.
“Ya,” jawabku singkat melempar pandangan ke arahmu.
Nih orang kenapa sih?

Kau membalas lewat senyum yang dipaksakan, “itu artinya kamu akan bebas karna aku nggak akan mengusik lagi.”
Kedua sudut bibirku tertarik ke samping, “baguslah kalo gitu.”

Hari-hari akan kulalui dengan nyaman.
Tidak ada panggilan “Gunung Es” lagi,
Tidak ada ocehan menyebalkan
Tidak ada yang akan menggeser posisiku di peringkat kelas.
Tidak ada lagi? dirimu.

Harusnya aku lega, tapi entah mengapa justru setitik kesedihan yang malah merambat di hati. Semakin banyak seiring lebatnya hujan di luar sana.
Kau tertawa hambar lalu diam beberapa detik untuk mempertemukan pandangan denganku.

Mulutmu mulai berceloteh lagi, “tau nggak kenapa aku selalu gangguin kamu?”
Aneh, nada bicaramu terdengar sangat serius dan tatapanmu seperti tak sabar menunggu jawaban.
“Karena aku aneh.” Jawabku asal.
Kepalamu menggeleng mantap, jari telunjuk dan tengah menaikkan frame kacamata yang menghiasi wajah tampanmu. “Karena aku ingin melihat ekspresimu. Tiap hari, kamu selalu memasang wajah datar. Jujur saja, aku lebih suka kamu marah atau tersenyum dan tertawa lepas karena ulahku. Itu membuatmu terlihat jauh lebih ‘hidup’… asik bukan menjalani hidup tanpa topeng? Jadilah diri sendiri, karena ada seseorang yang selalu menganggapmu berharga,” kau berkata panjang lebar dengan gaya khas.

Aku tak tahu apakah harus senang atau marah mendengarnya.
Namun ada sesuatu yang tak kumengerti, perkataanmu tetiba membuat dadaku sedikit menghangat. Dan kehangatan itu akhirnya menular ke kedua pipi tanpa bisa dicegah.
Dapat kulihat wajahmu juga bereaksi sama.

“Mungkin ini terdengar konyol, tapi … boleh aku minta satu hal?” Tanyamu sedikit kikuk.
Sebelah alisku terangkat, “apa itu?” kataku sedikit penasaran sambil terus menekan perasaan yang tak mampu dijelaskan lewat apapun.

Menyaksikan semburat merah di wajah seorang pemuda adalah pemandangan langka bagiku. Begitu menenangkan sekaligus mendebarkan seperti halnya aroma hujan.

“Tolong jangan lupakan aku. Dan … bisakah kamu menunggu hingga waktunya tiba?” kau mengucapkannya tanpa ragu dan sialnya aku tak mendeteksi sinyal kebohongan di bola matamu.
Aku tersedak napas sendiri. Oke, ini membingungkan. Tidak. Tidak. Ini sangat sangat membingungkan!
Tapi, kenapa?! Kenapa aku malah mengangguk?!
Sh*t! Sh*t! Sh*t!!!! Apa yang kulakukan?!!!!
Aku menggeleng pelan setelah itu menunduk dalam. Berusaha rileks dan berharap semoga degup jantungku yang makin menggila ini tidak tertangkap indera pendengaranmu.
Aira, sadar! Dia itu musuhmu!
Ya. Musuh yang tak akan pernah bisa kubenci.

tersenyum samar lalu manikmu melirik keluar, “udah reda. Ayo pulang!” katamu seraya mengambil tas kemudian berjalan pergi.
“Bagas! T-terima kasih banyak,” akhirnya aku angkat bicara setelah mengumpulkan keberanian, mengabaikan debaran hebat yang kutahan setengah mati.

Langkahmu terhenti tepat di depan pintu. Bayang tubuh jangkung itu begitu kontras kala diterpa sinar mentari senja.
Kau tidak berbalik, tapi aku tahu kau sedang tesenyum lebar sekarang. Tangan kananmu terangkat dan membentuk isyarat ‘OK’
Kemudian, suara langkahmu perlahan menjauh. Aku hanya terkekeh sembari meraba pipi.
Panas.

Haha! Lucu rasanya bila mengingat kejadian beberapa tahun silam itu. Momen terakhir kita berinteraksi. Setelah itu, semua berjalan di dunianya masing-masing. Benar-benar putus kontak. Hanya lewat sujud panjang dan hujan saja kita saling menyapa.

Sudahlah … yang penting aku sangat menikmati hujan hari ini dan tak henti-hentinya tersenyum membaca sebuah pesan di ponsel.

"Minggu depan aku akan datang. Bersama rombongan. Tunggu aku ya!"

Sinopsis Dari Novel "Bukan Dylan"

Bukan Dylan menceritakan seorang siswa SMA yang sangat tidak romantis dan super duper cuek. Namun, di balik segala kekurangannya, ia memiliki jiwa penolong yang sangat besar. Ia kerap kali adu mulut dengan salah satu siswi di kelasnya.
Suatu hari, ketika siswi tersebut mengalami sebuah masalah dengan kerumunan ojek yang sedang mangkal di dekat sekolah, Na Jaemin berusaha menyelamatkannya. Sejak saat itu, hubungan mereka dekat. Meski begitu, sikap Na Jaemin tetaplah Na Jaemin yang tidak bisa romantis apalagi puitis.

Sinopsis Dari Novel "Dear J"

Dear J— bercerita tentang kehidupan Na Jaemin,seorang pemuda yang digambarkan sebagai orang yang mempunyai kekurangan fisik. Hidup sebagai tunawicara, jaemin disebut lelaki cacat,yang karena kekurangannya,ia selalu menjadi bahan bulian teman-temannya. Walaupun demikian, kekurangannya tidak menjadi halangan untuk hidupnya. Ia gigih dan semangat dalam memperjuangkan hidupnya. Ia juga selalu memberi energi positif bagi teman-teman di sekitarnya. 
Ia murid yang pintar, aktif dan selalu tersenyum dibalik kesedihannya. Suatu hari, jaemin ditransfer ke sekolah baru sebagai murid pindahan. Ia bertemu Jung Jeha yang saat itu menjadi kekasih Lee Jeno.
Jung Jeha, orang yang pertama kali mengajak Jaemin bicara, tak disangka pertemuan mereka menjadi awal kenangan dalam hidup mereka. Disisi lain,jaemin mulai tertarik dengan Jung Jeha, Jeha juga mulai nyaman dengan pemuda bernama na jaemin setelah mengetahui sisi jaemin yang sebenarnya.
Jeha juga mengetahui kalau hidup na jaemin jauh dari kata bahagia. Dibalik senyumannya yang tampak cerah, Jaemin menyembunyikan rasa sakitnya selama ini. Ia adalah korban kekerasan keluarganya, walaupun tinggal bersama, keluarganya tak pernah menganggap jaemin ada. 
Semenjak ibu kandungnya,satu satunya orang yang menyayanginya,Jaemin harus berjuang mati matian untuk bertahan hidup. Ia terpaksa bekerja serabutan di usianya yang remaja ini demi mencukupi kehidupannya sehari hari. Mulai dari makan sampai bayar sekolah,ia tanggung sendiri.
Jaemin suka hujan,puisi,dan tentunya jeha, satu satunya alasan ia harus bertahan hidup di dunia gelap yang kejam untuknya.

Mentari

Mentari datang membawa jingga
Menerobos awan kelabu
Namun tak sampai kepadaku
Membawa riang tak jenuh

Aspal-aspal itu masih basah
Tak ada tanda kehangatan
Para manusia datang terus menginjak
Tak tahu sedih disana
Merekat rasa yang kunjung tak tersampaikan

Hingga si mata jeli berlalu
Melewati hati yang diterjang rindu
Dengan langkah pendeknya
Rasa hati ingin menyapa
Namun tak kuasa

Senja

Kamu itu seperti hujan
yang merahimkan makna sunyi yang tak kan pernah mampu kupuisikan dengan aksaraku

Bahkan sampai saat ini aku masih menyimpan senyum mu di kepalaku, dan ingatan tentang jemari dan segelas kopi pun masih jelas terekam

Setelahnya, aku memasuki belantara khayal dimana senyum mu tak lagi menjadi asing dan suara-suara tentangmu semakin rimbun

Mungkin masih ada jejak kata yang tak selesai, ketika aku kamu jatuh ke dalam sungai-sungai rindu karena sampai saat ini aku terus saja masih menggigil